pencil nor pen

Tuesday, April 26, 2011

Pagi itu

Pagi dini hari, kamu membangunkanku. Aku dan ayahmu segera bersiap-siap menyambutmu. Berdua, dengan kamu di perutku, kami melintasi jalan dini hari Jakarta, sambil berpikir sebentar lagi kami tidak hanya berdua. Aku menggenggam tangan ayahmu hampir sepanjang perjalanan, saling menguatkan. Mataku melihat Jakarta dini hari dari balik kaca mobil, sambil berpikir betapa aku selalu jatuh cinta pada pagi hari buta seperti ini, sunyi, damai, sepi, seperti alam yang terhenti sejenak, dan semua orang masih dalam buaian mimpi. Maka tepat sekali jika ayahmu ingin memasukan kata 'pagi' dalam namamu.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home